Dari Menemukan Kursus hingga Terus Belajar: Studi Kasus Cakap Upskill
Studi kasus produk end-to-end tentang penemuan kursus, kejelasan format belajar, dan perjalanan kembali untuk melanjutkan pembelajaran.
Memilih untuk meningkatkan keterampilan terdengar sederhana sampai seorang pembelajar harus berkomitmen pada waktu dan biaya. Profesional yang bekerja mungkin sudah tahu keterampilan yang ingin dibangun, tetapi tetap perlu menentukan kursus yang sesuai jadwal, apakah formatnya live atau fleksibel, apa saja yang termasuk dalam harga, dan bagaimana melanjutkan setelah sesi pertama. Katalog dapat menawarkan banyak pilihan sekaligus membebankan seluruh keputusan kepada pembelajar.
Saya mengeksplorasi masalah tersebut melalui Cakap Upskill, produk pembelajaran asal Indonesia dengan beberapa format kursus. Pekerjaan ini menghubungkan tiga pertanyaan: bagaimana seseorang menemukan kursus yang relevan, bagaimana membedakan format belajar, dan apa yang membantu mereka kembali setelah mendaftar. Output-nya berupa rangkaian layar mobile high-fidelity, sketsa masalah dan solusi, customer journey map, serta user flow.
Studi kasus ini mengikuti proses dari input hingga keputusan desain, kemudian menjelaskan bagaimana pengalaman tersebut dapat dievaluasi dalam layanan pembelajaran.
🧭 Konteks dan Ruang Lingkup Proyek
Keputusan di balik katalog
Cakap Upskill menyatukan beberapa format belajar dalam satu pengalaman produk.
Cakap Upskill menyajikan kesempatan belajar dalam beberapa bentuk, termasuk webinar, Crash Course, Live Class, Recorded Class, dan kursus yang berkaitan dengan Prakerja. Label-label tersebut hanya berguna jika pembelajar memahami komitmen di balik masing-masing format. Program intensif singkat, kelas terjadwal, dan rekaman menjawab kebutuhan waktu dan cara belajar yang berbeda. Harga, instruktur, tanggal, dan kelayakan dapat sama pentingnya dengan topik.
Pertanyaan desain saya adalah: bagaimana pengalaman mobile dapat membantu pembelajar yang bekerja bergerak dari minat karier menuju kursus yang dapat dipahami, dipilih, dan dilanjutkan? Saya menyusun konsep di sekitar tiga pekerjaan yang saling terhubung. Pembelajar perlu menemukan opsi yang relevan, menilai perbedaannya, dan menjaga momentum setelah memulai komitmen belajar.
Sebagai Product Designer, cakupan pekerjaan saya meliputi framing masalah, review interface yang ada, sintesis tantangan yang terdokumentasi, sketsa, desain journey dan flow, serta layar mobile high-fidelity.
Perspektif pembelajar
Untuk membuat keputusan lebih konkret, saya menggunakan Rizky, persona yang merepresentasikan profesional marketing di Jakarta yang tertarik pada digital marketing dan data. Ia bekerja dengan jadwal kantor reguler dan harus memilih antara ambisi belajar dengan waktu yang terbatas. Persona ini juga memasukkan anggaran dan kemungkinan kelayakan Prakerja sebagai faktor keputusan.
Kebutuhan Rizky lebih spesifik daripada sekadar melihat-lihat kursus. Ia ingin tahu apakah sebuah program membantu keterampilan yang relevan, sesuai dengan jam yang tersedia, menyediakan interaksi yang diinginkan, dan masuk akal secara finansial. Rekomendasi yang cocok dengan kata “data” tetapi mengabaikan jadwal kelas hanya sebagian relevan. Kartu yang menampilkan diskon tetapi menyembunyikan format dapat menciptakan keyakinan yang keliru. Pengamatan tersebut memengaruhi informasi yang saya tampilkan lebih awal dalam journey.
Ruang lingkup desain dimulai dari masuk akun dan memilih minat, berlanjut ke penelusuran serta perbandingan kursus, lalu menggambarkan perjalanan kembali setelah pendaftaran. Desain ini tidak mencakup kurikulum lengkap, verifikasi hasil belajar, aturan kelayakan Prakerja, atau sistem operasional di balik inventaris kursus, pembayaran, pengingat, dan sertifikat.
Pengalaman mobile sebelumnya menjadi baseline visual untuk studi ini. Capture ini bersifat historis dan bukan representasi aplikasi production saat ini.
Sketsa awal menghubungkan pengingat dan progres dengan perjalanan kembali, serta search dan tag dengan proses discovery.
🧠 Tiga Masalah, Satu Keputusan Belajar
Partisipasi adalah pertanyaan tentang journey
Framing masalah menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan jumlah siswa aktif dan kehadiran webinar. Seseorang yang sudah mendaftar tetapi tidak kembali mungkin lupa, kehilangan minat, mengalami benturan jadwal, atau menemukan kursus yang tidak sesuai. Materi yang tersedia tidak memisahkan penyebab-penyebab tersebut. Karena itu, saya menggunakan pengingat dan progres sebagai kemungkinan dukungan untuk melanjutkan belajar, bukan sebagai solusi yang sudah terbukti.
Banyak pilihan dapat menyulitkan discovery
Pembelajar mungkin mengetahui bidang yang diinginkan tanpa mengetahui judul kursus yang tepat. Halaman yang mencampur banyak program membuat mereka harus menafsirkan katalog sebelum dapat membandingkan kecocokan. Search membantu ketika mereka memiliki istilah yang spesifik; kategori dan sinyal minat membantu ketika mereka belum tahu harus mencari apa. Pertanyaan desainnya adalah bagaimana kedua jalur tersebut dapat bertemu pada kumpulan kursus yang mudah dipahami.
Kejelasan format adalah bagian dari relevansi
Pembelajar yang mencari fleksibilitas mungkin menolak kelas live meskipun topiknya tepat. Pembelajar lain mungkin menghargai sesi dengan instruktur sehingga bersedia menerima jadwal tetap. Jika kartu daftar menyembunyikan perbedaan sampai halaman detail, pengguna akan berulang kali membuka opsi yang tidak sesuai. Format, jadwal, dan harga perlu muncul dekat dengan titik perbandingan.
Ketiga tema tersebut saling berkaitan. Label format yang lebih jelas membuat hasil pencarian lebih mudah dinilai. Perbandingan yang lebih baik membantu pembelajar berkomitmen pada kursus yang sesuai. Prompt untuk kembali memiliki nilai lebih ketika pilihan awal memang tepat. Saya memperlakukan hubungan ini sebagai hipotesis desain, bukan model funnel yang sudah terukur.
🗺️ Journey, Sketsa, dan Struktur Interaksi
Memetakan momen yang penting
Customer journey map mengikuti jalur representatif dari sign-up, discovery, evaluasi kursus, sesi belajar, hingga kembali atau menyelesaikan kursus. Map ini mencatat apa yang dilakukan pembelajar, touchpoint yang dapat membantu, dan titik ketika keputusan bisa gagal. Pemikiran dan kurva emosi Rizky membantu saya mengeksplorasi pengalaman di sepanjang transisi tersebut.
Customer journey map membuat journey dan titik keputusannya dapat ditinjau sejak minat awal hingga kelanjutan belajar.
Map tersebut membantu memisahkan kebutuhan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu homepage. Onboarding dapat menangkap minat awal, tetapi tidak menjamin rekomendasi akan tepat. Kartu kursus dapat membantu menilai keputusan, tetapi tidak dapat memvalidasi instruktur atau kualitas materi. Pengingat dapat membawa pembelajar kembali ke sesi berikutnya, tetapi tidak dapat membuat kursus layak diselesaikan. Desain perlu menghubungkan momen-momen tersebut tanpa menganggap sebuah layar sebagai pengganti kualitas layanan.
Sketsa kedua mengeksplorasi bagaimana hubungan itu dapat terlihat. Format kursus ditempatkan di level teratas, lalu diikuti kartu kursus yang lebih terstruktur. Ini mengubah cara pandang: format bukan metadata tersembunyi ketika format menentukan apakah pembelajar yang bekerja dapat menghadiri kelas.
Sketsa menguji hubungan antara format kursus yang dapat dinavigasi dan informasi yang dibutuhkan untuk menilai kursus tertentu.
Mengubah journey menjadi flow
User flow menghubungkan masuk akun dan pemilihan minat ke homepage yang dipersonalisasi, browsing atau search, detail kursus, dan keputusan pendaftaran. Flow tersebut kemudian menggambarkan pengingat, progres yang terlihat, dan kemungkinan status selesai. Ada dua cabang discovery karena pembelajar datang dengan tingkat intensi yang berbeda: sebagian ingin mengeksplorasi format, sementara sebagian lain sudah mengetahui topik dan perlu melakukan search.
User flow menghubungkan discovery dengan pendaftaran, pengingat, progres, dan kemungkinan status selesai.
Flow tersebut memperlihatkan sebuah dependency. Jika pilihan minat tidak terhubung dengan tag kursus yang konsisten, homepage pertama dapat terasa acak. Jika cabang search dan browse menggunakan definisi Crash Course atau Live Class yang berbeda, pembelajar dapat melihat hasil yang bertentangan. Jika pendaftaran tidak membuat catatan jadwal yang dapat diandalkan, pengingat yang ditulis dengan baik pun bisa datang pada waktu yang salah. Dependency ini menentukan urutan validasi konsep.
📱 Keputusan Interface dan Output High-Fidelity
Output high-fidelity mempertahankan arah layar awal: masuk akun, pemilihan minat, pengalaman home yang berpusat pada Upskill, konten kursus, dan state notifikasi. Overview lengkap menyatukan entry, pemilihan minat, course discovery, dan pengalaman kembali. Detail search, perbandingan kartu, progres, dan reward juga dijelaskan melalui sketsa serta flow, sehingga kedalaman implementasinya perlu dibaca dari artefak tersebut, bukan diasumsikan hanya dari satu gambar overview.
Overview high-fidelity menyatukan entry, pemilihan minat, course discovery, dan pengalaman kembali belajar.
Tangkap minat sebelum merekomendasikan kursus
Konsep onboarding menanyakan minat utama pembelajar. Pilihan seperti data science, digital marketing, UI/UX, finance, business, dan technology menciptakan sinyal awal yang dapat digunakan oleh pengalaman home. Pembelajar yang memilih digital marketing seharusnya melihat hubungan yang dapat dikenali antara minat tersebut dengan kursus atau kategori. Jika layar berikutnya tidak berubah, pertanyaan tersebut menjadi friction tanpa manfaat yang terlihat.
Ada biaya ketika pertanyaan diajukan terlalu awal. Orang yang baru menjelajahi layanan mungkin belum mengetahui minatnya. Pilihan wajib dapat menunda akses, dan kategori yang tidak tepat dapat mengunci pengguna pada rekomendasi yang buruk. Dalam versi yang siap digunakan, langkah ini sebaiknya mudah dilewati atau diubah, menyediakan home umum untuk minat yang belum diketahui, dan diuji apakah minat yang dipilih benar-benar memperbaiki keputusan pertama.
Beri format belajar tempat yang mudah dipahami
Konsep home membuat Upskill lebih terlihat dan memberi format utama entry point yang berbeda. Crash Course, Live Class, Recorded Class, dan jalur yang berkaitan dengan Prakerja perlu memberi gambaran tentang komitmen yang akan dijalani. Rekomendasi topik dapat berdampingan dengan format tersebut, tetapi tidak boleh menghapusnya: “relevan untuk saya” dan “sesuai jadwal saya” adalah dua penilaian yang berbeda.
Memisahkan format membantu pembelajar memahami pilihan sebelum menelusuri kursus satu per satu. Namun, hal ini juga menuntut definisi label yang konsisten. “Crash Course” perlu memiliki makna yang stabil terkait durasi, pacing, dan partisipasi live di seluruh program. Tanpa taxonomy konten yang disepakati bersama pemilik katalog, tile yang berbeda secara visual dapat membuat perbedaan terlihat lebih jelas daripada kondisi sebenarnya.
Dukung browse dan search berbasis topik
User flow menyediakan jalur kedua bagi seseorang yang sudah mengetahui keterampilan yang ingin dipelajari. Query seperti “machine learning” dapat dipersempit berdasarkan tipe kursus dan tag yang bermakna. Tujuannya adalah menggabungkan intensi topik dengan kecocokan cara belajar. Hasil search memerlukan tag topik, label format, dan empty state yang konsisten.
Jadikan kartu kursus berguna untuk perbandingan
Sketsa kartu dan flow mengatur informasi yang dibutuhkan pembelajar sejak awal: tipe program, subjek, judul, tanggal dan waktu bila relevan, instruktur atau partner, rating, harga awal dan diskon, serta jumlah akhir yang harus dibayar. Ini adalah contoh interface, bukan penawaran atau harga transaksi yang sedang diverifikasi.
Alasannya berkaitan dengan urutan informasi. Pembelajar seharusnya dapat menolak kelas yang tidak sesuai tanpa membuka setiap halaman detail. Format, jadwal, topik, dan harga akhir memerlukan hierarki yang kuat. Rating berguna hanya jika sumber dan jumlah review dapat dipercaya; badge diskon tidak seharusnya lebih dominan daripada informasi apakah kursus tersebut live atau rekaman.
Hubungkan pengingat dengan komitmen yang sudah ada
State notifikasi merespons pembelajar yang telah mendaftar pada sesi terjadwal. Pengingat yang berguna menjelaskan apa yang akan terjadi dan kapan harus kembali, misalnya webinar yang segera dimulai. Desain production perlu memperhitungkan status pendaftaran, zona waktu acara, consent, quiet hours, deep link ke sesi yang benar, serta pembatalan atau perubahan jadwal.
Tampilkan progres tanpa menjadikan reward sebagai tujuan
Sketsa dan flow menggunakan progress ring serta prompt “Unlock Reward” untuk menunjukkan bahwa pembelajar sudah mulai dan dapat melanjutkan. Progres membutuhkan definisi: menonton video, menyelesaikan latihan, menghadiri sesi live, dan menyelesaikan kursus adalah event yang berbeda. Jika semuanya dicampur, sistem dapat memberi reward pada aktivitas yang dangkal. Saya akan memperlakukan mekanik ini sebagai lapisan validasi berikutnya, bukan pengganti kualitas kursus atau rekomendasi yang akurat.
🧪 Hasil Desain dan Evaluasi
Hasil konkret studi ini adalah arah interface yang terhubung: penangkapan minat awal, entry point format yang lebih jelas, jalur browse dan search, informasi kursus yang lebih kaya, serta loop untuk kembali belajar. Sketsa, customer journey map, user flow, dan layar high-fidelity menjelaskan bagaimana desain menghubungkan minat, pilihan kursus, dan perjalanan kembali.
Evaluasi berikutnya perlu menguji apakah pembelajar memahami perbedaan format, dapat memilih kursus yang sesuai jadwal, dan dapat menemukan jalan kembali ke aktivitas belajar berikutnya. Hasil yang berguna perlu menunjukkan pemahaman terhadap penawaran sekaligus progres di dalam journey, bukan hanya reaksi positif pada satu layar.
Kontribusi terkuat dari desain ini adalah struktur sebab-akibatnya: menghubungkan tujuan yang dinyatakan dengan kumpulan kursus yang relevan, memudahkan perbandingan, dan memberi pembelajar yang sudah mendaftar jalur untuk kembali. Apakah struktur tersebut mengubah perilaku tetap menjadi pertanyaan produk yang terbuka.
🚀 Pengembangan Lanjutan dan Pertimbangan Produk
Jika konsep ini dibawa menuju delivery, saya akan memulainya dari taxonomy kursus dan informasi pada listing. Tim perlu mendefinisikan Crash Course, Live Class, Recorded Class, webinar, dan inventaris yang berkaitan dengan Prakerja, lalu memastikan field jadwal, instruktur, harga, kelayakan, dan topik dapat diandalkan. Kartu yang lebih jelas tidak dapat menyampaikan kebenaran jika atribut tersebut kosong atau tidak konsisten.
Berikutnya saya akan menguji hierarki format pada home dan pemahaman kartu kursus secara bersamaan. Search topik dan filter format menyusul dengan pemeriksaan kualitas query, cakupan tag, hasil kosong, dan hubungan antara label filter dengan kursus sebenarnya. Pemilihan minat akan bernilai ketika katalog mampu meresponsnya. Notifikasi dan progres sebaiknya hadir setelah event pendaftaran dan belajar dapat dipercaya.
Konsep ini juga membutuhkan jawaban untuk pembelajar yang melewati pilihan minat, memilih topik yang bertentangan, tidak menemukan hasil search, berganti format, atau melihat kelas yang kemudian penuh. Perubahan jadwal penting setelah pendaftaran: webinar yang dibatalkan harus menghentikan pengingat, sementara kelas yang dijadwal ulang harus memperbarui event dan pesan. State seperti ini lebih memengaruhi kepercayaan daripada menambah badge reward.
Untuk evaluasi, saya akan memisahkan tiga pertanyaan: apakah pembelajar dapat mengidentifikasi jenis kursus yang tepat, apakah interface membantu progres pembelajar yang memenuhi syarat, dan apakah kelanjutan belajar meningkat setelah pendaftaran? Ini adalah usulan pengukuran, bukan hasil studi ini. Penjelasan pengguna tentang alasan sebuah kursus cocok sama pentingnya dengan kecepatan mencapai kartu.
📝 Refleksi dan Pembelajaran
Pelajaran paling berguna dari pekerjaan ini adalah bahwa penemuan kursus, perbandingan kursus, dan perilaku untuk kembali merupakan satu rangkaian keputusan. Membantu pembelajar menemukan kursus yang relevan hanyalah langkah pertama. Format harus mudah dipahami, komitmen harus sesuai dengan kehidupan mereka, dan sesi berikutnya harus mudah ditemukan.
Pekerjaan ini juga memperlihatkan batas interface. Tile format yang jelas bergantung pada definisi format yang jelas. Home yang dipersonalisasi bergantung pada tag katalog yang akurat. Progress ring bergantung pada event belajar yang bermakna. Tanpa fondasi tersebut, interface mungkin terlihat lebih koheren sementara pembelajar tetap membuat pilihan yang buruk.
📌 Disclaimer: Studi kasus ini menyajikan proses dan perspektif digital product saya melalui konsep independen yang dibuat untuk tujuan edukasi. Ini bukan engagement resmi dan bukan perubahan produk yang telah dirilis. Elemen ilustratif, keterbatasan riset, serta tidak adanya dampak produk atau bisnis yang terverifikasi ditulis berdasarkan bukti proyek yang tersedia. Nama dan imagery pihak ketiga tetap menjadi milik pemiliknya masing-masing dan ditampilkan untuk konteks portfolio. Seluruh pandangan adalah milik saya.
💬 Let’s Connect: Punya masukan atau pemikiran tentang studi kasus ini? Saya senang mendengarnya. Silakan tinggalkan komentar atau lihat karya product dan experience lainnya di cahyadiaditya.site. Untuk berdiskusi, hubungi saya melalui Telegram atau terhubung melalui LinkedIn. Terima kasih sudah membaca.